Sebenarnya sudah tak terlalu bersemangat menulis tentang hal ini, namun ada satu kejadian yang nampaknya kita dapat ambil hikmah darinya. Kita dapat mendapat pengalaman, nasehat tanpa kita sendiri yang harus mengalaminya.
Singkat cerita, sore itu ada pesan masuk dari sahabat lama. Nampaknya ada hal yang ingin ditanyakan, namun masih sedikit tak terbuka, masih malu-malu kayaknya. Sedikit pesan yang agak memaksa dengan dugaan yang menyindir ahirnya dia mau cerita juga.
Ternyata sahabatku ini mau curhat. Ya tentang perasaannya. Seperti ini pesan masuknya
“iya ni, saya merespon seseorang alakadarnya, karna saya tau pacaran itu ga boleh. Tapi saya tak yakin bisa pada pendirian ini atau tidak, saya berusaha untuk tidak pacaran. Saya merespon dia ala kadarnya, tapi lama kelamaan kena getahnya juga,saya menaruh harapan padanya, walupun itu pasang surut, kadang inget kadang tidak, dan proses itu berjalan cukup lama, sampai akhirnya saya tau dia telah bersama yang lain”.
Setiap jiwa manusia pasti mempunyai rasa cinta, rasa simpati, mengagumi yang membedakan antar yang lain adalah bagaimana kadarnya, bagaimana mengotrol perasaan tersebut. Cinta adalah manusiawai, semua orang pasti merasakannya. Cinta adalah anugrah Sang Ilahi, usam cinta karna manusia. Alangkah menderitanya ia yang menjadi budak cinta, ia habiskan waktunya dengan sia-sia, memikirkan dan melakukan hal yang tak memberi manfaat. Hidupnya bagaikan terpenjara, tersandera dalam kubangan semunya cinta. Sejatinya perasaan itu adalah anugerah dari Sang Khaliq untuk kita, seharusnya kitalah yang menjadi raja, kitalah yang mengotrol, mengendalikannya agar tetap dalam koridor yang ada.
Kita mengambil hikmah dari kejadian tersebut, bagaimana kita menanggapi cinta sewajarnya, karena hakikat cinta hanya dua menghalalkannya atau mempersilahkannya pergi. Menghalalkannya berarti menjadikan dia teman hidup kita, sebagai penguat dalam mengarungi hidup, seraya berdoa dan berusaha agar dijadikan keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah. Dijadikan keluarga yang darinya lahir generasi-generasi penghafal, pencinta Al-Qur’an, generasi penerus yang memperjuangkan kalimat Ilahiyah. Generasi yang akan memperbaiki negeri ini, dunia ini. Dan jika kita belum siap dengan opsi yang pertama, yang paling tepat adalah mempersilahkannya pergi. Menjauh dan terbanglah bersama hembusan angin. Kita pasrahkan pada yang Punya Cinta, sembari terus memperbaiki diri, mempersiapkan diri, dan memantaskan diri. Bukan terpaku pada siapa kita kan menambatkan hati. Dan yakin lah siapapun jodoh kita,jangan pernah lupa mendekatkan diri kepada Allah,karna Allah tak akan memberikan jodoh yang buruk bagi hamba yang selalu mendekatkan diri pada Nya.
Memang susah untuk melupakan, namun jika tak diupayakan maka hanya derita yang didapat. Kita alihkan focus kita pada hal yang lain, kita tingkatkan produktifitas kita, kita buat karya-karya yang hebat. Kita fokuskan pada perbaikan diri, kita siapkan ilmu agama, ilmu rumah tangga, parenting, sosial dan jangan lupa persiapkan penghasilannya.
Jangan pernah menyesal karna telah melewatkan orang sepertinya. Seharusnya kita bersyukur berarti malaikat penjaga hati tak pergi meninggalkan kita. Karna saat kita melakukan maksiat salah satu malaikat penjaga akan pergi, maka jika teramat sering bermaksiat sudah tak ada lagi malaikat penjaga. Sehingga dengan mudahnya melakukan maksiat-maksiat yang lain.
Teruslah memperbaiki diri, takada waktu untuk berhenti membaikkan diri, terus memantaskan diri dan terus berdoa moga diberi yang terbaik pada waktunya. Bersibuk diri dalam ketaatan.
Teruntuk sahabatku,
Bersabarlah, peganglah keyakinan itu dangan sekuat mungkin dan yakinlah pada keyakin itu, walau terlalu sering rayuan dunia teramat berat. Dan semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untukmu yang membersamaimu dalam ketaatan. Diwaktu yang tepat, karna saat ini kita sama-sama sedang puasa, menunggu waktunya berbuka, karna waktu berbuka akan datang. Dan berbukalah dengan yang halal, karna yang manis belum tentu halal.
Bekasi, 22 juli 2014