Katanya wisuda kelulusan adalah
suatu ritual yang sakral,yang membahagiakan, yang bagi mereka saat itu mereka
resmi mendapakan gelar hasil dari jatuh bangun menyelesaikan masa kuliah, tapi menurutku
tidak. Kenapa? Kalau menurutku saat itu adalah saat yang resmi kita akan
berpisah dengan sahabat, kita akan kehilangan status kita sebagai mahasiswa “yang
kalau lagi ada promo bisa dapet potongan, dengan menunjukkan KTM nya”, trus
yang paling gak mengenakan lagi kita akan menyandang gelar baru yaitu
pengangguran. Hal yang tentu saja menjenuhkan, mengenaskan, bagi sebagian
orang. Bagi sebagian lagi tentu tidak, apaligi yang sudah kerja. Tapi tak
apalah tak usah merenungi terlalu jauh, kita nikmati saja gelar “itu”.
Ada sebuah kisah seseorang yang
akan menjalani prosesi wisuda, setelah perjuangannya menyelesaikan kuliah
selama 3 tahun lebih. Kisah ini akan dimulai dari hari H-1 sebelum prosesi
wisuda dilaksanakan. . Hari itu tepatnya tanggal 16 oktober 2013. Setiap calon
wisudawan diwajibkan hadir pada acara gladi bersih. Menurut jadwal yang telah
dijadwalkan, semua calon wisudawan harus datang pukul 13.00 WIB. Setelah kedatangannya
di lokasi, seperti biasa kebanyakan dari mereka menggunakan jam Indonesia, jam karet. Latihan
pun dimulai beberapa jam dari jadwal yang telah ditentukan. Acara gladi bersih
tersebut terkesan kurang persiapan dari panitia, dan sepertinya ini cocok untuk gladi bersih panitia saja. Soalnya
terkesan kita hanya duduk, bengong dan sudah selesai.
Dalam prosesi wisuda biar lebih
ngena orang tua calon wisudawan biasanya datang, untuk mendampingi anaknya atau
setidaknya ada foto keluarga pas wisuda. Sama sepertiku, orang tuaku baru
berangkat dari rumah tanggal 16 nya, ya diperkirakan akan sampai di stasiun Jati
Negara pukul 22.15 WIB. Akupun memutuskan berangkat dari stasiun bogor jam
20.00 WIB dengan estimasi akan sampai stasiun Jati Negara pukul 22.00 WIB, agar
gak lama nunggu. Tapi apa? Aku teringgal kereta beberapa menit saja, huh. Akhirnya
menunggu jadwal pemberangkatan selanjutnya dan ternyata kereta itu sampai di
tujuan pukul 22.53 WIB, sedangkan orang tua sudah datang dari tadi, merasa
berdosa banget. Sudah datang jauh-jauh masih harus nunggu aku sampai di
stasiun. Dan sesuai perencanaan awal kita pun langsung menuju rumah om. Dalam
perjalanan ada sebuah pesan dari seorang sopir taxi “jangan terlalu memaksakan
idealismemu, nanti nasipmu akan seperti bapak, padahal jika bapak dulu tidak
memaksakan mungkin tidak akan jadi supir seperti ini”, karena menurut
pemaparannya, bapak tersebut pernah ngekost disalemba, kalian tentu taukan
kost-kostan daerah situ? Siapa yang tinggal? Dan mengambil jurusan apa? Di universitas
apa?.
Akhirnya sampai juga di rumah om
sekitar pukul setengah 12 malam, kami beres-beres dan sedikit bercengkrama
dengan keluarga sebelum beristirahat. Pagi itu tanggal 17 oktober 2013 hari
pelaksanaan prosesi wisuda dilaksanakan, kamipun berangkat dari Jakarta ke Bogor
jam setengah 6 ditakutkan terkena macet. Padahal acara baru akan dimulai pukul
9, ya tak apalah dari pada terlambat mendingan nunggu. Sebelum prosesi wisuda
dimulai sebagian wisudawan memanfaatkan waktu untuk mengambil foto bersama,
sebagai kenag-kenagan. Kalian pun akan terkaget dan bahkan bisa saja tak akan
mengenali muka teman kalian sendiri yang perempuan. Tau sendiri kalau perempuan
ada acara kaya gini hebohnya kayak apa, ya dandannya, ya apanya, ya apanyalah. Ya
tak apalah, mngkin itu memang kodratnya perempuan. Jam sudah menunjukkan pukul
12 lebih, acarapun telah usai dan para wisudawan sudah diperkenankan
meninggalkan tempat. Seperti kebiasaan, setelah keluar gedung ada yang
mengucapkan selamat, ada yang memberikan rang kaian bunga, ada yang langsung
kumpul dengan kelompoknya sampai kadang orang tua nya sendiri dilupakan. Miris.
Hari itu juga, tanpa sempat
mengabadikan momen dalam foto dan berkumpul dengan teman-teman, kita langsung
pulang karena orang tua tidak mau menginap lagi dang harus pulang hari itu
juga. Ya tak apalah. Walaupun taka da foto bersama dengan teman-teman tapi
kalian telar mematri dihati. Dan tanpa persiapan dan hanya dengan mengambil
keputusan secara cepat akhirnya aku memutuskan untuk ikut pulang ke rumah. Itulah
sedikit kisah tentang wisuda, semuga menjadi momen untuk selalu memperbaiki
diri.