Kamis, 07 November 2013

Katanya Wisuda


Katanya wisuda kelulusan adalah suatu ritual yang sakral,yang membahagiakan, yang bagi mereka saat itu mereka resmi mendapakan gelar hasil dari jatuh bangun menyelesaikan masa kuliah, tapi menurutku tidak. Kenapa? Kalau menurutku saat itu adalah saat yang resmi kita akan berpisah dengan sahabat, kita akan kehilangan status kita sebagai mahasiswa “yang kalau lagi ada promo bisa dapet potongan, dengan menunjukkan KTM nya”, trus yang paling gak mengenakan lagi kita akan menyandang gelar baru yaitu pengangguran. Hal yang tentu saja menjenuhkan, mengenaskan, bagi sebagian orang. Bagi sebagian lagi tentu tidak, apaligi yang sudah kerja. Tapi tak apalah tak usah merenungi terlalu jauh, kita nikmati saja gelar “itu”.

Ada sebuah kisah seseorang yang akan menjalani prosesi wisuda, setelah perjuangannya menyelesaikan kuliah selama 3 tahun lebih. Kisah ini akan dimulai dari hari H-1 sebelum prosesi wisuda dilaksanakan. . Hari itu tepatnya tanggal 16 oktober 2013. Setiap calon wisudawan diwajibkan hadir pada acara gladi bersih. Menurut jadwal yang telah dijadwalkan, semua calon wisudawan harus datang pukul 13.00 WIB. Setelah kedatangannya di lokasi, seperti biasa kebanyakan dari mereka menggunakan jam Indonesia, jam karet. Latihan pun dimulai beberapa jam dari jadwal yang telah ditentukan. Acara gladi bersih tersebut terkesan kurang persiapan dari panitia, dan sepertinya  ini cocok untuk gladi bersih panitia saja. Soalnya terkesan kita hanya duduk, bengong dan sudah selesai.

Dalam prosesi wisuda biar lebih ngena orang tua calon wisudawan biasanya datang, untuk mendampingi anaknya atau setidaknya ada foto keluarga pas wisuda. Sama sepertiku, orang tuaku baru berangkat dari rumah tanggal 16 nya, ya diperkirakan akan sampai di stasiun Jati Negara pukul 22.15 WIB. Akupun memutuskan berangkat dari stasiun bogor jam 20.00 WIB dengan estimasi akan sampai stasiun Jati Negara pukul 22.00 WIB, agar gak lama nunggu. Tapi apa? Aku teringgal kereta beberapa menit saja, huh. Akhirnya menunggu jadwal pemberangkatan selanjutnya dan ternyata kereta itu sampai di tujuan pukul 22.53 WIB, sedangkan orang tua sudah datang dari tadi, merasa berdosa banget. Sudah datang jauh-jauh masih harus nunggu aku sampai di stasiun. Dan sesuai perencanaan awal kita pun langsung menuju rumah om. Dalam perjalanan ada sebuah pesan dari seorang sopir taxi “jangan terlalu memaksakan idealismemu, nanti nasipmu akan seperti bapak, padahal jika bapak dulu tidak memaksakan mungkin tidak akan jadi supir seperti ini”, karena menurut pemaparannya, bapak tersebut pernah ngekost disalemba, kalian tentu taukan kost-kostan daerah situ? Siapa yang tinggal? Dan mengambil jurusan apa? Di universitas apa?.

Akhirnya sampai juga di rumah om sekitar pukul setengah 12 malam, kami beres-beres dan sedikit bercengkrama dengan keluarga sebelum beristirahat. Pagi itu tanggal 17 oktober 2013 hari pelaksanaan prosesi wisuda dilaksanakan, kamipun berangkat dari Jakarta ke Bogor jam setengah 6 ditakutkan terkena macet. Padahal acara baru akan dimulai pukul 9, ya tak apalah dari pada terlambat mendingan nunggu. Sebelum prosesi wisuda dimulai sebagian wisudawan memanfaatkan waktu untuk mengambil foto bersama, sebagai kenag-kenagan. Kalian pun akan terkaget dan bahkan bisa saja tak akan mengenali muka teman kalian sendiri yang perempuan. Tau sendiri kalau perempuan ada acara kaya gini hebohnya kayak apa, ya dandannya, ya apanya, ya apanyalah. Ya tak apalah, mngkin itu memang kodratnya perempuan. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih, acarapun telah usai dan para wisudawan sudah diperkenankan meninggalkan tempat. Seperti kebiasaan, setelah keluar gedung ada yang mengucapkan selamat, ada yang memberikan rang kaian bunga, ada yang langsung kumpul dengan kelompoknya sampai kadang orang tua nya sendiri dilupakan. Miris.


Hari itu juga, tanpa sempat mengabadikan momen dalam foto dan berkumpul dengan teman-teman, kita langsung pulang karena orang tua tidak mau menginap lagi dang harus pulang hari itu juga. Ya tak apalah. Walaupun taka da foto bersama dengan teman-teman tapi kalian telar mematri dihati. Dan tanpa persiapan dan hanya dengan mengambil keputusan secara cepat akhirnya aku memutuskan untuk ikut pulang ke rumah. Itulah sedikit kisah tentang wisuda, semuga menjadi momen untuk selalu memperbaiki diri.